Jumat, 04 November 2011

Nasi Tai


Jarum jam menunjukkan pukul 1 siang. Pantas saja perutku terasa lapar. Tapi tumpukan berkas yang antre untuk aku selesaikan membuatku menunda makan sampai semua pekerjaan beres.
Satu jam kemudian aku mulai tidak tahan lagi, perutku sudah berteriak minta diisi. Hari itu pedagang makanan yang biasa mangkal di depan kantorku sedang libur jualan. Bakso keliling langgananku dah lewat sejak tadi kata Upi teman sekantorku. Amat, OB yang biasa aku mintai tolong untuk membeli nasi bungkus baru saja disuruh kirim document keluar.
Hah…lengkap sudah penderitaanku, terik matahari di luar membuatku enggan beranjak dari ruangan ber-AC yang membuatku ingin tidur saja. Tapi perutku sudah tak bisa lagi diajak kompromi. Dengan berat hati, akhirnya kuseret saja kakiku menuju satu-satunya warung yang membuatku sering berpikir lama untuk masuk kedalamnya. Bukannya masakannya gak enak, bukannya warung itu jorok, bukan juga pelayannya gak ramah. Tapi uang makan per hari yg hanya 5rb inilah penyebabnya. Yap..harga sebungkus nasi campurnya dua kali lipat uang makan harianku. Tapi kali ini, tidak ada pilihan lain.
Haaaah…aku menghembuskan nafas lega begitu memasuki ruang makan di kantor. Tak sabar kubuka bungkusan nasi campur tadi, aromanya membuatku tak sabar ingin langsung menyantapnya.
Agak terkesiap sejenak melihat isinya. Perlahan kusisihkan sedikit tumpukan nasi diujung kertas pembungkusnya, lalu kuletakkan tangan kiriku tepat diatasnya untuk menghalangi pandangan mataku agar di saat makan, mataku tidak tertuju ke tumpukan nasi yang kusisihkan tadi. Perlahan nasi itupun kusantap sambil berlinang air mata. Ada rasa marah, rasa geli dan kecewa bercampur lapar yang tak tertahankan sepanjang suap demi suap yang kutelan.
Upi dan dina teman sekantorku heran bukan kepalang, tidak biasanya aku seperti ini. Dengan penuh rasa penasaran mereka menghujaniku dengan berbagai pertanyaan yg semakin membuatku tidak tahan ingin segera menghabiskan nasi di hadapanku. Aku tetap tak menjawab semua pertanyaan mereka karena mulutku terus kuisi penuh dan air mataku terus saja mengalir tanpa henti hingga suapan terakhir.
Kuusap airmataku sambil tertawa terbahak-bahak, dan kujawab saja semua rasa penasaran mereka dengan kata-kata singkat “ Ada tai di nasiku”
Ya…tepat diatas tumpukan nasi yg sejak tadi kusisihkan ada sebentuk kecil kotoran cecak yang terlihat masih basah. Tapi karena rasa lapar yang teramat sangat dan harga yg kubayar dua kali lipat dari biasanya yg membuatku tak menghiraukan kotoran itu.
Selaaaak Melaaaaak……

Senin, 06 Juni 2011

Jadi Kaya dan Roti Tawar di Oles Mentega

Hmmm..beberapa saat lagi kami akan melewati terminal sweta, Si Aku Kecil sudah bersiap di pinggir jendela kendaraan yang kami tumpangi. Wajahnya terlihat sumringah dan tak sabar. Rambut ikalnya terlihat kusut karena terpaan angin, kepalanya sedari tadi terjulur keluar jendela menanti saatnya melihat spanduk iklan favoritnya.iklan berbentuk spanduk yang paling disukainya.
Anak kecil yang istimewa.. Hidup ditengah keluarga yang paspas-an namun memiliki impian yang bagi seorang anak kecil sangatlah besar. " Keliling Dunia" katanya. Tidak ada yang mustahil, fikirku dalam hati. Selama ini pikiranku tentang keliling dunia sangat identik dengan orang kaya, diplomat, presenter acara jalan2, wartawan, artis dan banyak lagi. Namun bayangan Si Aku Kecil tentang hidup kaya sangatlah sederhana.

Ini dia hubungan antara Menjadi Kaya dengan Roti Tawar di Oles Mentega.
Spanduk iklan salah satu produk mentega..yah iklan itulah yang sedari tadi ditunggu Si Aku Kecil. Tiba2 tersungging senyum penuh kebahagiaan di bibirnya sesaat setelah kendaraan yang kami tumpangi melewati emperan toko yang di bagian depannya terdapat spanduk iklan itu. Aku jadi penasaran dan bertanya, "kamu seneng skali ya liat iklan mentega itu, kenapa? kamu ingin jadi bintang iklan?" tanyaku. Si Aku Kecil menggeleng namun tetap tersenyum, lalu berkata " Nanti jika aku kaya, aku akan makan roti tawar dengan diolesi mentega yang banyak". Dia mengatakan kalimat itu tanpa ragu dan gurat malu sedikitpun. Ekspresinya tampak serius. Aku tergelak geli..ekspresinya tetap saja seperti tadi,serius. Beberapa saat kemudian aku tertegun dan mulai berfikir, seperti apa gerangan hidup yang di jalani Si Aku Kecil hingga impiannya tentang hidup kaya sesederhana itu.